Cara Menjadi Dukun Cilik (atau Licik?)

1. Rencanakan dengan matang media perdukunan dan cara publikasi diri Anda.

2. Pastikan 100% keluarga dan teman2 dekat Anda mendukung perbuatn Anda.

3. Kumpulkan orang2 yg mndukung Anda dan buatlah cerita semenarik mungkin yg membuat Anda terlihat bak dukun untuk memikat hati masyarakat sekitar.

4. Pilih media perdukunan yang mudah ditemukan, murah/gratis, dan unik. Sebagai conoth, batu, namun batu belakangan ini sudah umum, jadi Anda dapat menggunakan teh celup misalnya atau kondom untuk nanti dicelupkan ke air pasien untuk diminum atau dioleskan ke tubuh.

5. Sebarluaskan berita bahwa Anda telah menjadi dukun melalui teman2 dan sanak saudara. Tambahkan bumbu2 dalam cerita Anda yang berisikan lebih kurang Anda telah menyembuhkan teman2 dan sanak saudara Anda, walaupun tidak total, dengan benda ajaib tadi.

6. Biarkan masyarakat sekitar, media massa, dan polisi datang ke rumah Anda. Setelah situasi mulai tampak menguntungkan, Anda dapat menarik biaya dari pasien2 Anda.

Selamat mencoba!

CATATAN: Metode ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Lamanya waktu yang dibutuhkan tergantung jumlah massa dan kegigihan perorangan.

Add comment 5 January 2012 thewicax

What is the Meaning of Lemah? The Wan

Perlu ditanamkan dan dipahami sebelumnya bahwa di sini tidak menggunakan kamus atau buku referensi untuk mengartikan kata lemah. Jadi Anda tidak perlu berkata, “lemah adalah kondisi tidak bla, bla, bla” atau “lemah adalah ketidakmampuan untuk bla, bla, bla”. Sekali lagi, tidak perlu.

Diceritakan alkisah di suatu negeri bernama Endosia, terdapat seorang bocah laki-laki yang senang dipanggil the wan.

Oke, kembali ke gaya penulisan kaku yang biasa!!!

The Wan adalah orang yang tidak pandai bergaul. Dia juga tidak terlalu pandai dalam bidang olah raga, namun dia suka bermain sepak bola. Kacamatanya yang tebal membuatnya kesulitan dalam memerhatikan pelajaran di kelas dan bermain sepak bola, pernah kacamatanya patah karena jatuh dan terinjak saat sedang bermain sepak bola.

The Wan memiliki banyak kelemahan, baik dalam akademik maupun…apa ya, ya itulah. Tapi ada beberapa hal yang saya selalu kagumi dari dia, yaitu dia tidak pernah merasa terkucilkan atau tertekan, dia selalu bisa lebih bebas dari siswa2 lain yang bisa dibilang lebih populer dibandingkan dia, dan dia jago kimia dan bahasa Jepang. WAHAHAHAHA!!!
Tidak lupa dia juga jago menggambar, tentunya tentang anime dan semacamnya.

Dia adalah orang yang paling tidak terasa kehadirannya di kelas. Dia juga siswa yang tidak akan terdengar suaranya kecuali terpaksa menjawab atau bersenda gurau dengan teman-teman dekatnya.
Orang ini selalu dianggap remeh dan dikucilkan oleh hampir satu sekolah yang tahu mengenai dirinya.

Tapi saya melihatnya sebagai orang unik yang memiliki keahlian khusus dan pendirian kuat yang tidak atau jarang dimiliki manusia pada umumnya. Orang ini telah mengajarkan saya satu hal:

“Kelemahan adalah blokade yang dapat dihancurkan atau dibiarkan, terserah pada pemiliknya. Kelemahan adalah blokade yang menutup suatu “jalan”, maka kita dapat melewati “jalan” lain yang tidak kalah besar dan bagusnya yang dapat kita gunakan mencapai “garis finish” kita masing-masing”
(Wicaksono, 2009)

Jadi, apakah Anda merasa lemah?
Kenalilah apa saja yang menjadi kekuatan Anda.
Cintai apa yang Anda sukai dan jadikan itu ‘kendaraan’ mencapai ‘garis finish’ Anda masing-masing.
(Wicaksono, 2009)

Add comment 5 January 2012 thewicax

Pandu (dan) Wicaksono

Ini adalah kisah kuno. Kisah ini tidak diketahui asal mulanya, tapi bagi mereka yang percaya, kisah ini menjadi inspirasi bagi sepasang suami istri dalam pemberian nama bayi laki2 yang akan lahir.

P=Pandu
W=Wicaksono

W: ndu, cita2 lu apa sih?
P: jadi pendidik. Kenapa cak?
W: gapapa, ga kurang tinggi tuh?
P: tujuan sebenernya kan berpartisipasi langsung dalam dunia pendidikan di saat tenaga pengajar berkurang satu per satu. Itu udah tinggi kan.
W: kalo jadi mendiknas gimana? Lebih tinggi lagi kan.
P: ah, ketinggian. Ngapain muluk2. Terlalu beresiko, kalo gagal ntar jatohnya sakit.
W: ck, ck, ck. Ndu, ndu. Makin tinggi yang mau lu dapetin, otomatis makin keras lu usaha. Kalo lembek2 aja sih jadi tukang bubur juga bisa. Gagal itu ga ada, yang ada cuma bertambah pengalaman (Wicaksono, 2009). Jadi ga usah takut sakit kalo jatoh, yang ada level lu udah naek sebelum lu ngerasa jatoh.
P: kalo gitu sekalian aja gue jadi presiden.
W: silakan, tapi lu harus tetep inget, ngaca.
P: gw tau tampang gw sangat standar.
W: bukan itu. Nentuin cita2 harus semaksimal mungkin dari kapasitas kita, bukan semaksimal mungkin dari kemauan kita (Wicaksono, 2009).
P: oke.
W: sekarang gw tanya, apa spesial lu?
P: gw orang yang mau-an, ngapain aja hayok. Gw adalah orang yang bisa bekerja sekuat tenaga walopun ga sepenuh hati. Gw bisa memanipulasi bias orang lain dan memanipulasi panca indera dan pikiran sendiri. Gw selalu ingin yang terbaik. Kalo gw punya tim, gw sndri yang harus susun, atau seenggaknya gw tau itu orang2 yang ahli di bidangnya.
W: cukup, cukup. Gw liat lu sebenernya emang bisa mimpin kok. Sekarang gw yakin kalo lu emang Pandu.
P: makasih, tapi apa gunanya pemimpin tanpa kebijaksanaan? Kalo gw ga bisa bijaksana, seenggaknya gw bisa dapet temen yang bijaksana untuk ngawasin gw. Dan… Gw liat lu cukup bijaksana untuk menjadi ‘pelengkap’ seorang pemimpin. Gw juga yakin kalo lu emang Wicaksono.
W: oke, gw terima tawaran lu. Gw akan nemenin lu.
P: makasih banyak, cak.

Sejak saat itu, Pandu dan Wicaksono hidup saling melengkapi.

Pada akhirnya lahirlah nama Pandu Wicaksono.

Add comment 5 January 2012 thewicax

Gradasi

Tidak sedikit saudara kita (kita?), kami deh, or whatever, yg tinggal di luar negeri sana berkata, “saya justru melihat Islam di negeri yang bukan Islam.”

Kemudian saya berpikir sejenak dan tersenyum. Seandainya saya bisa berkata pada mereka, “ya akhi (atau ukhti), (atau lebih sok keren lagi) wahai saudaraku, pernahkah kau melihat baju hitam atau jaket hitam yang terkena salju? Tentu akan terlihat bagaikan ketombe (kasarnya) dan cukup terlihat mencolok atau menarik perhatian. Pernahkah pula kau memakai baju abu-abu yang memiliki gradasi warna abu-abu dari 10% hingga 80% dan terkena gumpalan salju di bagian bahu dan punggungnya? Tentu kau akan melihat bahwasanya salju yang putih2 tadi tidak semenarik perhatian saat jatuh di pakaian berwarna hitam. Sudah tentu juga kau akan cukup kesulitan melihat rambutmu sendiri yang rontok jatuh di bahumu. Itulah agama kita. Di negeri yang mayoritas Islam, tidak akan kau menemukan semua sama putih, atau semua sama abu2 dengan tingkat keabu2an yang sama. Tentu saja kau akan melihat hal yang kau anggap biasa saja karena sering kau lihat. Jelas berbeda ketika kau ke tempat mayoritas orang berkulit hitam seperti Afrika dan Papua kemudian kau melihat orang berkulit kuning langsat ataupun putih. Kau tentu akan berkata, ‘saya justru melihat keindahan warna kulit di tempat itu. Jadi, yah, gitu deh. Intinya sih sama aja, cuma dari faktor psikologis tentu yang minor di tempat mayor kadang terasa lebih istimewa.’”

Kalau sampai-sampai Islam minoritas tapi bejat-bejat juga orangnya…..

Ya itu orangnya, orang, manusianya, manusia.

Add comment 5 January 2012 thewicax

Si Profesor (Eksistensialisme)

Maimunah (M)
Budi (B)

M: dek, kalo udah gede mau jadi apa?
B: profesor
M: kenapa?
B: seru aja, kan bisa buat ini itu
M: kalo gitu nanti kamu sekolah yang bener ya
B: kenapa?
M: biar pinter dan bisa jadi profesor. Bulan depan kamu mulai sekolah (TK) di situ ya.
B: kenapa?
M: biar deket, lagian kalo di tempat laen jauh dan mahal. Nah, kalo udah SD, sekolahnya di situ aja ya.
B: kenapa?
M: di situ lumayan bagus, deket sama rumah eyang, jadi kalo ada apa2 kamu tinggal pulang ke sana. Dulu mamah, tante, dan om juga belajar di sana.
B: kenapa?
M: karena kan itu deket rumah, jadi gampang ngawasinnya. SMP sih mama ada rencana kamu di situ aja.
B: kenapa?
M: itu termasuk favorit loh, lagian masih deket juga dari rumah eyang. Kakak kamu juga dulu di situ. kalo SMA mendingan di situ aja.
B: kenapa?
M: itu juga sekolah favorit dek, biar temenannya juga ama orang yang pinter2. Terus kalo sekolahnya bagus kan mudah2an gampang buat nerusin kuliah.
B: kenapa?
M: kan bahan ajarannya bagus. guru2nya bagus, jadi mudah2an kamu jadi gampang ngerjain ujian buat kuliah. kakak kamu kan juga sekolah di situ, jadi bisa bareng nanti. kuliahnya di situ aja ya dek.
B: kenapa?
M: itu kan PTN, jadi bayarnya bisa murah. kalo swasta mahal. lagipula kan kampusnya deket rumah jadi ga banyak ongkos. terus kampusnya terkenal loh. banyak banget yang mau ke sana tiap tahunnya, jadi saingannya ketat.
B: kenapa?
M: kan di situ bagus, jadi ntar kamu gampang nyari kerjanya kalo kuliah di situ. Kalo mamah sih maunya kamu ambil jurusan itu aja.
B: kenapa?
M: jaman sekarang susah, kalo bisa ambil kuliah di jurusan itu mudah2an abis lulus kerjanya gampang. biasanya sih kalo lulusan situ kerjanya di bank atau buka kerja jasa sendiri. Enak kan. Kalo nggak kamu jadi PNS kalo bisa.
B: kenapa?
M: kalo PNS tuh dapet uang pensiun jadi nanti kalo kamu udah tua dan ga kerja ga perlu pusing mikirin uang lagi. terus PNS dapet tunjangan macem2. kalo di swasta nggak. walopun emang kalo PNS kebanyakan maenannya ga bagus sih. nanti pokoknya kamu jadi orang lurus2 aja ya dek, jadi orang baek aja, ga usah macem2.
B: oh.
M: kenapa?

Add comment 5 January 2012 thewicax

The Feminist (Wanna be)

Keduanya berjalan di atas trotoar salah satu jalan protokol
di ibu kota. Sepasang kekasih? Bukan. Hanya seorang wanita
dan laki-laki biasa. Berteman.

Bagaimana saya tahu? Gampang, saya mengkhayal.

Si laki-laki mengerutkan kening hampir sepanjang jalan
sedangkan si wanita tampak berbicara terus menerus dengan
cara yang menggebu-gebu. Si laki-laki tampak sesekali
merespon.

Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tadinya, saya
pikir si wanita sedang marah atau kesal dan si laki-laki
bosan bukan main mendengarkan “ujaran-ujaran” si wanita.

Ternyata, si wanita sedang membicarakan sesuatu yang
berkaitan dengan feminisme.

Falo… fallogo…phalo… phallogo…. Entah bagaimana

mengejanya, yang saya tahu belakangnya sentrisme. Atau
centrisme. Apalah.

Itu ujaran baru untuk saya. Untuk yang tidak tahu juga apa
itu. Nih, saya cantumkan alamatnya setelah saya cek istilah
itu dengan telepon genggam saya. Modern, bisa internetan.

http://en.wiktionary.org/wiki/phallogocentrism

Nah, saya lihat yang wanita itu tampak kesal sembari
menunjuk ke sana ke mari. Akhirnya, dengan segala kemampan
imajinasi saya, saya mengamati gerak bibir keduanya yang
sempat berhenti berjalan kaki sejenak.

“Gila, di dunia ini semuanya serba phallogosentrisme!” lebih
kurang begitulah isi seruan si wanita. Saya tahu ejaannya
setelah melihat internet. Telepon genggam saya memang sudah
cukup modern, bisa internetan.

“Apaan tuh?” tanya si laki-laki singkat.
“Itu loh, masa’ gak tau sih. Teori di feminisme.”
“Lah, gue kan cowo, ga tau begituan.”
“Ga belajar sih.”
“Ya udah sih. Terus maksud lu apa dari tadi ngomong ke mana
-mana, tiba-tiba ke beginian?”
“Ya gue kesel aja, masa di dunia gini space buat cewe dikit
banget.”
“So?”
“Idih, liat tuh gedung-gedung bertingkat, tinggi-tinggi. Tuh
semua kayak cowo, sombong, angkuh, dan juga semua itu
lambang kelamin cowo.”
“What!?”
“Yeh, baru tahu lu?”

Si laki-laki melihat ke bawah. Saya tidak tahu melihat apa.
Kemudian melihat ke langit, dan berkata,
“Oh, Tuhan”

Saya juga bingung maksudnya. Jangan tanya saya.
Setelah merasa cukup menatap langit, yang saya yakin dia
merasa silau, ditatapnya kembali wanita itu. Tatapannya kali
ini lebih kosong daripada botol air mineral di tangannya.

“Ga ngerti. Terus mau lu apa?”
“Ya kasih tempat dong buat cewe.”
“Maksud lu? Mau bikin gedung bentuk kubah berdempetan?”
“Hah?”
“Iya kan?”
“Ga juga sih. Tapi mungkin beberapa boleh dong.”
“Boros tempat tau.”
“Hah?”
“Yeh, kan bisa bikin 84.573 (angka ini saya tidak tahu dapat
dari mana) gedung bertingkat ke atas kayak biasanya daripada
bikin ratusan (ini juga saya asal saja) kubah kembar.”
“Susah ngomong sama cowo. Apalagi sama orang kayak lu”
“Lah kok gitu sih?”

Si laki-laki agak panik. Tentu saja, di pinggir jalan yang
lalu lintasnya ramai seperti itu si wanita berteriak-teriak
dan tampak kesal. Saya hitung, sudah empat mobil, delapan
motor, dan sebuah bus kopaja berisi pendukung sebuah
kesebelasan tertentu.

“Berantem nih!”
“Prikitiew”
“Ciee, ciee”

Ramai-ramai khas suporter.

Mulailah kedua orang itu melanjutkan perjalanan setelah
menyadari apa yang barusan terjadi.

“Jangan marah dong, kan bukan gue yang bikin gedung”
“Iye-iye”
“Udah kan ngebahas giniannya?”
“Belom, gue masih kesel banget. Bayangin dong gue sebagai
cewe yang harga dirinya terinjak-injak, keperawanannya
tercabik-cabik, harkat dan martabat gue teraniaya.”

Si laki-laki hanya diam. Sepertinya, kalau dilihat dari jauh
dia berkata ‘apa deh?’

“Nih coba lu perhatiin, yang namanya phallogosentrisme ga
cuma di gedung-gedung begitu aja.”
“So? Semua yang berbentuk lonjong panjang gitu maksud lu?”
“Iya …”

Keduanya sempat terdiam

“Kayaknya”

Si wanita melanjutkan

“Yang belajar kan lu, gue sih iya-iya aja. Terus gimana?”
“Nih ya yang paling bikin gue sebel, sosis, sikat gigi,
sendok, sumpit, rokok, apa aja deh yang bentuknya begitu
terus dimasukin mulut.”
“Ya ampun, apaan lagi sih ini?”
“Iya dong, itu merendahkan kaum wanita. Kalo cewe make or
konsumsi gituan kan berarti seakan mereka ngemut itu. Idih,
jijik. Lu kira gue demen oral seks?”
“Ini juga?”

Si laki-laki mengangkat botol air mineralnya dan menatap si
wanita. Kali ini tajam, seakan berkata, ‘kalo yang ini juga
mendingan gue pergi deh’

“Iya”

Dan sekali lagi, si laki-laki melihat ke langit. Tetapi saya
tidak tahu apa yang dibisikkannya karena posisinya
membelakangi saya. Kemudian keduanya berlalu begitu saja.

Saya berjalan ke belakang gedung, keluar, dan melihat pohon.
Pohon palem yang tinggi.

“Ah, phallocentrism”

Add comment 5 January 2012 thewicax

STUPID POOR CHILDREN ARE S*!*

Kira-kira itu yang ada di pemikiran orang banyak, terutama kaum kapitalis. Kok bisa? Pemikiran ini didasari oleh pengalaman pribadi. Sempat dulu mencari-cari beasiswa, karena keuangan keluarga sedang banyak pengeluaran sedangkan yang menjadi tulang punggung utama adalah ibu. Menelusuri berbagai situs dan selebaran, beasiswa full diadakan untuk perguruan tinggi swasta, sedangkan status saya di perguruan tinggi negeri (atau mungkin badan hukum milik negara :p). Bahkan di bagian kemahasiswaan fakultas dan universitas, beasiswa yang saya cari hanya diperuntukkan bagi keluarga yang tidak mampu. Tidak mampu secara finansial, ya, tapi mampu secara akademik. Adil, kelihatannya. Bagaimana keluarga yang pas-pasan? Bagaimana keluarga yang memang tidak tergolong tidak mampu tapi juga tidak tergolong mampu? Yah, bayangkan saja sendiri.

 

Itu satu masalah yang timbul karena prasyarat sederhana dari pihak pemberi beasiswa. Di samping itu, bisa dibilang beasiswa-beasiswa untuk membantu siswa-siswi yang kurang beruntung dalam hal ekonomi mensyaratkan mereka harus memiliki prestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Terbersit lagi pertanyaan: apakah memang harus seperti itu? Masalahnya, tidak semua anak Indonesia yang berkekurangan dalam hal ekonomi mendapatkan kesempatan yang sama. Harapan saya, para pemberi beasiswa ini juga mempertimbangkan bahwa beasiswa yang diberikan bisa jadi batu pijakan bagi mereka untuk mendapatkan prestasi. Tentunya hal ini penuh risiko, dianggapnya [baca judul]. Siswa-siswi yang ekonominya lemah dan tidak berprestasi tidak menjamin kesuksesan program beasiswa tersebut. Sebagai contoh sederhana, pertama, bila siswa tersebut gagal menyelesaikan studinya, dan jumlah siswa seperti itu cukup banyak, maka citra lembaga pemberi beasiswa tersebut bisa melemah. Bisa jadi dianggapnya program tersebut gagal dan dana program tersebut tentu melayang. Kedua, ada juga lembaga yang ‘mengikat’ siswa penerima beasiswa itu untuk ‘berkarya’ di lembaga tersebut. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi lembaga tersebut. Bila tidak banyak siswa yang bisa ‘diikat’, maka dapat menjadi kerugian.

 

Di satu sisi baik, di satu sisi adil, di satu sisi berat sebelah, di satu sisi lemah. Sudut pandang Anda adalah hak Anda, itu terserah Anda, yang jelas saya tidak akan pernah mendapatkan beasiswa yang berbunyi, “berasal dari keluarga tidak mampu”

Add comment 5 January 2012 thewicax

Ga Cukup? NGANGKANG! (muslim 10+ only….. ga juga sih)

Jumat, X September 2011

 

 

Iqamah berkumandang, tandanya sholat segera dimulai.

Mata memandang, shaf-shaf didepan masih bisa dicapai.

Takbir melayang, sholat sudah dimulai.

Mata tercengang, shaf lowong berarti lalai.

 

Bergeser kaki, satu orang boleh maju.

Lihat laki-laki, enggan untuk maju.

Kurapatkan kaki, silakan, maju.

Lihat laki-laki, “LEBARIN AJA TUH KAKI”.

 

 

Kejadian ini bertempat di suatu masjid di daerah tangerang, eh, serpong. Gue pendatang di sana. Ga ngerti juga sih apa kebiasaan jamaah masjid itu, yang jelas ga biasa aja emang. Penyakit yang biasa menjangkit jamaah masjid di buaaanyak daerah: SHAF KAGAK LURUS DAN RAPET. Masa’ ada lowong cukup 1 orang, daripada maju, gue disuruh ngangkang. Astaghfirullah.

Yang bisa gue bilang waktu itu ke tuh bapak: “Tapi gak rapet Pak, Masya Allah!” (Balik badan, ngangkang, takbir)

 

Padahal udah jelas dalilnya:

1. Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah dia bersabda “:Lurus rapatkan  shaf kalian, karena lurus rapatnya  shaf adalah bagian dari kesempurnaan tegaknya shalat.” (HR. Bukhari No. 690. Muslim No. 433)

Jadi kalo gak rapet kan ga sempurna ya sholatnya. Keterima gak kira2? Allahu a’lam.

 

2. “Benar-benarlah kalian dalam meluruskan shaf,  atau (jika tidak) niscaya Allah akan membuat perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” (HR. Muslim No. 436)

Nah ini nih, boro2 mau nyerbu negara manaa gitu. Boro2 mau bikin apa tuh? khilafah? Sholat rapetin badan aja kagak mau. Kalo shaf gak rapet, berarti jamaahnya ga kompak. Kalo jamaahnya gak kompak, berarti persatuannya lemah. Kalo persatuannya lemah, berarti gampang diadu dan pecah. Kalo gampang diadu dan pecah, berarti namanya “gundu peyang” (Wicaksono, 2011).

 

Plis, yang dirapetin tuh badannya, pundak dan kaki, bukan sajadahnya, hell-hoo….

Daaaan, kalo ngerapetin tuh ke arah imam, ke tengah2, jangan pada minggir2, yang tengah ntar ngangkang.

 

 

Kalo saya bau sehingga Anda tidak mau merapatkan badan ke arah saya, saya minta maaf dan berlindung kepada Allah dari kejahatan dan gangguan yang merusak sholat.

Add comment 5 January 2012 thewicax

@america vs @panduwcx :-P

“Peran Wanita Asia dan Budaya Asia di Amerika”

Kira2 begitu judul ‘talkshow’ beberapa minggu lalu. Pembicaranya entah siapa namanya, lupa, wanita Korea yang lama belajar cultural studies di Amerika. Beliau juga seorang penulis dan editor, kalau tidak salah begitu di keterangannya. Dari talkshow yang dibawakan tersebut, saya yakin bahwa @ America hanya sebuah alat pencitraan dari negara Amerika.

Pertama, hal ini bisa dilihat dari isi talkshow waktu itu, talkshow dimulai dengan sejarah wanita Asia di Amerika. Mereka menjadi ‘barang’ yang bisa dipilih dan dinikahi. Di samping itu, mereka dipaksa untuk menerima cara hidup orang Amerika. Bahkan banyak wanita dari Cina yang diculik dan dijual untuk dijadikan pelacur di Amerika. Pada akhirnya, wanita-wanita Asia yang mendapat stereotipe bahwa mereka wanita murahan yang gampang digoda. Pembicara pada kesempatan itu juga membandingkan versi fantasi hollywood atas citra wanita Asia yang seksi dan murahan dengan keaadaan riil para wanita Asia yang diculik dan dijadikan pelacur. Talkshow berlanjut dengan cerita penderitaan dan berbagai karya sastra yang menggambarkan kesedihan para wanita tersebut. Akan tetapi, hal yang menurut saya cukup aneh terjadi. Dengan memberikan gambaran mengenai perkembangan wanita Asia dan budaya Asia di Amerika, berarti secara langsung dan sadar akan memancing pertanyaan yang bisa mengorek lebih dalam lagi tentang hal itu. COntohnya, bisa saja pesertanya bertanya ‘apa tidak ada regulasi dari Amerika untuk menghentikan pengiriman manusia dari Asia?’ ‘dari mana dasar pemikiran mereka di Amerika harus hidup seperti org Amerika?’ ‘apa sebetulnya arti oriental pada masa itu?’ dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat mungkin berkembang semakin liar dan memojokkan citra Amerika yang bebas dan adil. Kenyataannya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak berkembang dan moderator berulang kali menekankan bahwa mereka bisa bertanya tentang bagaimana hidup di Amerika, tips2 agar sukses studi di sana, dan seterusnya. Alhasil, ‘mimpi buruk’ wanita Asia di Amerika terhapus begitu saja dari benak. Sekarang, yang ada hanya kemajuan dan kemutakhiran. Tidak salah memang bila ingin maju, tapi ‘Jas Merah’ (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Kedua, kalau memang @america ditujukan sebagai sarana informasi sejarah Amerika dan sebagainya, tentunya dengan segala berat hati, hanya sejarah yang romantis dan patriotis saja yang banyak ditunjukkan media2 di sana. Memang wajar bila suatu negara ingin menutupi sejarah hitamnya.

Kesimpulannya, sama sih dengan tesisnya

Add comment 5 January 2012 thewicax

Barat vs Timur-Tengah

Kalau baca judulnya kira-kira udah bisa ketebak kan isinya tentang apa aja.

Saya beri gambaran umumnya sedikit. Timur Tengah sering diintervensi Barat, namun bagaimana realita yang dapat dilihat? Perpecahan, perang suku, perebutan kekuasaan, sikap foya-foya para bangsawan, dan sebagainya masih terjadi. Saya akan fokus ke bagian foya-foya bangsawan Timur Tengah di tengah susahnya hidup di sana. Hal ini tidak jarang disinggung oleh media, misalnya kebiasaan pesta para bangsawan atau anak-anak raja (atau presiden) di sana. Di sisi lain, biasanya, masyarakat awam akan melihat Palestina sebagai contoh dekat negara Timur Tengah yang dilanda konflik berdarah berkepanjangan. Di sana berfoya-foya, di situ terkoyak-koyak.

Kemudian, suara sumbang lain akan terdengar, yang mengaitkan dengan agama. Saya cuma bisa berkomentar, “Ya ga mentang-mentang lahir di sana dan agamanya itu jadi orang baik.” Saya berusaha tidak menghakimi agamanya. Hal yang saya kritisi adalah pemikiran over-generalization itu, bahwa ‘karena orang sana, agamanya sama, ya kudu berakhlak mulia’, kira-kira begitu. Tentunya pemikiran ini terlalu sempit.

Sayangnya, saya tidak berminat membicarakan Barat dan Timur Tengah yang itu. Bukan kubu Barat yang di pikiran kita Amerika dan Eropa, dan Timur Tengah yaitu negara-negara Arab. Oooh… tidak… sungguh-sungguh bukan.

Sebenarnya, yang saya maksud ‘Barat’ adalah Indonesia bagian Barat dan ‘Timur-Tengah’ memiliki makna Indonesia bagian Timur dan Tengah sebagai sebuah kesatuan (oleh karena itu saya beri tanda ‘ – ‘). Mari mendelik dan melihat kembali ke kasus Timur Tengah yang di benua lain tadi. Permisalan saja, misalnya kita berniat menghakimi agamanya, maka Indonesia tidak lebih baik dari wilayah-wilayah tersebut kan. Pertanyaan saya sederhana saja, “ kalo lagi punya duit, beli mkanan di atas 30.000 untuk sekali makan, nonton film dan karaokean bareng temen-temen, atau bahkan ngopi yang harganya di atas 20.000 per gelas, siapa yang merasa bersalah dan berat hati karena inget-inget saudara kita di wilayah lain di Indonesia merana, busung lapar, konflik berdarah, dsb?”

Ini Indonesia bung, satu negara, di sana belum tentu. Indonesia bung, bisa jadi satu agama juga seperti di sana. Indonesia bung, sukunya juga bermacam-macam seperti di sana. Lalu, ada yang mau mempertanyakan solidaritas satu ras dan satu agama seperti di Timur Tengah? Mari kita sama-sama pertanyakan solidaritas kita dengan sesama orang Indonesia yang sebangsa, setanah air, sebahasa,  mungkin satu suku, mungkin satu agama.

Terlebih lagi, kalau kita melihat bagian Barat Indonesia, maka kita akan terpaku pada pulau Jawa. Bahkan kalau cakupannya dipersempit lagi, seolah Indonesia bagian Barat hanya seputar Jakarta dan sekitarnya. Lalu, apa yang terjadi? Hal yang sudah banyak diketahui orang banyak. Indonesia seolah hanya Jakarta dan sekitarnya. Indonesia seolah hanya pulau Jawa. Indonesia seolah hanya bagian Barat. Pertumbuhan tidak merata. Memang sebenarnya tidak bisa merata tapi jika melihat bahwa fokus pembangunan hanya di Indonesia bagian Barat, terutama Jakarta yang “kebetulan” terletak di pulau Jawa, maka ketidakadilan lah yang jelas terlihat. Bukankah sama saja dengan kasus Timur Tengah di atas? Di sebelah sana kelaparan, di sebelah sini bermekaran.

Memang, kita hanya memenuhi kebutuhan (nafsu pribadi) dengan tidak berlebihan karena memang manusia perlu melakukan kegiatan yang membuatnya senang dan rileks. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan kegiatan berfoya-foya a la bangsawan, kecuali para pejabat yang kantungnya lebih dalam dari palung di samudra pasifik.

Saya sendiri tentunya sangat amat kurang bersolidaritas terhadap sesama, tapi saya sudah merasakannya, ingin berubah, dan mengabarkannya pada Anda. Bagaimana dengan Anda?

Add comment 6 February 2011 thewicax

  • Postingan Terakhir

  • Archives

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

  •  
    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.